Sejarah Kerajaan Majapahit

Sejarah Kerajaan Majapahit

A. Latar Belakang

     Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, menantu dari Raja Kertanegara yang merupakan raja terakhir Kerajaan Singhasari. Nama Majapahit diambil dari nama buah Maja yang ditemukan di Hutan Tarik, lokasi desa yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai hadiah dari Jayakatwang, adipati Kediri yang menggulingkan keluarga kerajaan Singhasari dan membunuh mertua Raden Wijaya.

    Majapahit berhasil berdiri karena jatuhnya Jayakatwang di tangan pasukan Mongol. Pasukan Mongol datang ke Jawa karena Raja Kertanegara memperlakukan utusan Mongol yang menyuruh Kerajaan Singhasari untuk membayar upeti. Saat pasukan Mongol telah tiba di Jawa, Jayakatwang sudah berkuasa. Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol dan berhasil menjatuhkan Jayakatwang. Tetapi malam setelah pertempuran melawan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

B. Raja-raja

1. Raden Wijaya (1293-1309)

    Raden Wijaya atau Kertarajasa sebagai raja pertama Majapahit menikmati hasil-hasil dari                    ekspedisi yang dikirimkan oleh Singasari, salah satunya Ekspedisi Pamalayu. Perjalanan ini                memperoleh hasil yang gemilang baik secara materi maupun pengakuan kekuasaan dari wilayah-wilayah yang jauh.

2. Jayanagara (1309-1328)

    Jayanagara merupakan putra mahkota dari Kertarajasa, sehingga menjadi haknya untuk bertahta ketika ayahnya wafat. Jayanagara seringkali dicap sebagai raja yang kurang cakap, namun alasan utama banyaknya guncangan di masa pemerintahannya adalah serangkaian pemberontakan yang terus berlanjut.

3. Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350)

    Jayanagara tidak berputra, oleh karena itu ia digantikan oleh adik perempuannya yang telah menjadi Bhre Kahuripan.

4. Hayam Wuruk (1350-1389)

    Hayam Wuruk dianggap sebagai raja yang membawa Majapahit pada masa kebesarannya dibantu oleh mahapatih Gajah Mada. Ia bergelar Sri Rajasanagara, dan berhasil menaklukkan wilayah-wilayah sebagai lanjutan dari perluasan cakrawala mandala Majapahit ke Nusantara Timur, sampai dengan wilayah semenanjung Malaya.

5. Wikramawardhana (1389-1429)

    Wikramawarddhana atau Bhre Hyang Wisesa adalah keponakan sekaligus menantu Hayam Wuruk yang kawin dengan Kusumawarddhani. Meskipun seharusnya Kusumawarddhani yang menjadi raja, karena ia adalah putri mahkota Majapahit.

6. Suhita (1429-1447)

    Suhita adalah putra dari Wikramawarddhana yang ditunjuk untuk menggantikannya. Keputusan ini langsung menimbulkan sengketa antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhumi hingga terjadi peperangan.

7. Kertawijaya (1429-1451)

    Kertawijaya adalah raja Majapahit ke-7 dengan gelar Brawijaya 1.

8. Rajasawardhana (1451-1453)

    Rajasawardhana adalah raja Majapahit ke-8 dengan gelar Brawijaya 2.

9. Purwawisesa (1456-1466)

    Purwawisesa atau Girishawardhana adalah raja Majapahit ke-9 dengan gelar Brawijaya 3.

10. Bhre Pandansalas (1466-1468)

    Bhre Pandansalas atau Suraprabhawa adalah raja Majapahit ke-10 dengan gelar Brawijaya 4.

11. Bhre Kertabumi (1468-1478)

    Bhre Kertabumi adalah raja Majapahit ke-11 dengan gelar Brawijaya 5.

12. Girindrawardhana (1481-1489)

    Girindrawardhana adalah raja Majapahit ke-12 dengan gelar Brawijaya 6. Dyah Suryawikrama Girindrawarddhana menaiki tahta kerajaan setelah tiga tahun Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan (interregnum). Ia adalah anak dari Kertawijaya yang sebelumnya memerintah daerah Wengker, memerintah selama sepuluh tahun sebelum digantikan oleh putranya Bhre Pandan Salas/Dyah Suryaprabhawa Sri Singhawikramawarddhana.

13. Patih Udara (1489-1527)

    Patih Udara adalah raja Majapahit ke-13 dengan gelar Brawijaya 7.

C. Kehidupan di Majapahit

1. Sosial budaya

    Kehidupan sosial masa Majapahit aman, damai, dan tenteram. Dalam kitab Negarakrtagama disebutkan bahwa Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Perlindungan terhadap rakyat sangat diperhatikan.

    Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu. 

    Nagarakretagama menyebutkan budaya keraton memiliki ciri khas yang adiluhung dan anggun, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Peristiwa utama dalam kalender tata negara digelar tiap hari pertama bulan Caitra (Maret-April) ketika semua utusan dari semua wilayah taklukan Majapahit datang ke istana untuk membayar upeti atau pajak.

2. Ekonomi

    Dengan lokasi strategis yang menyebabkan Majapahit menjadi pusat perdagangan di Jawa, Mayoritas penduduk Majapahit bermata pencaharian sebagai pedagang. Selain itu, adapula penduduk yang bermata pencaharian lain, misalnya pengrajin emas, pengrajin perak, hingga tukang daging. Faktor yang mempengaruhi kesejahteraan ekonomi Kerajaan Majapahit yaitu lembah sungai Brantas dan Bengawan Solo di dataran rendah Jawa Timur yang dimana sangat cocok untuk dijadikan sebagai lahan tanam padi dengan infrastruktur yang memudahkan seperti saluran irigasi.

    Adapun sistem perekonomian yang dijalankan di Kerajaan Majapahit adalah sistem agraris dan perdagangan. Pada masa itu ekonomi Jawa telah sebagian mengenal mata uang, tepatnya sejak abad ke-8 (jaman Kerajaan Medang yang menggunakan keping emas dan perak).

3. Agama

    Kerajaan Majapahit setidaknya memiliki dua agama resmi, yaitu agama Siwa (cabang agama Hindu dan agama Buddha. Pada perkembangannya, yaitu ketika Majapahit akhir, peran agama Buddha semakin luntur dan menghilang karena pengaruh islam yang semakin kuat.

D. Masa kejayaan

    Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan saat dipimpin Hayam Wuruk yang berkuasa sejak 1350 sampai 1389. Hayam Wuruk menjadi pemimpin saat usianya 16 tahun. Dia adalah raja keempat Kerajaan Majapahit setelah mewarisi tahta ibunya, Tribhuwana Tunggadewi atau putri Raden Wijaya. 

    Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, daerah kekuasaan mencakup seluruh Nusantara, yakni meluas sampai ke Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filipina. 

    Majapahit memiliki kekuatan yang signifikan dalam membangun relasi dengan China, Champa, Kamboja, Annam, dan Thailand (Siam). 

    Sekitar 98 kerajaan pada saat itu ada di genggaman Majapahit. Keberhasilan Hayam Wuruk tak lepas dari pengaruh Gajah Mada. Gajah Mada adalah panglima tertinggi, mahapatih, sekaligus tangan kanan Hayam Wuruk. 

    Sumpah Palapa sebenarnya adalah janji politik yang diucapkan Patih Gajah Mada ketika dilantik sebagai Maha Patih. Gadjah Mada bersumpah akan menyatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah naungan Majapahit.

E. Keruntuhan

    Kematian Gajah Mada pada 1364 menjadi awal redupnya kejayaan Majapahit. Setelah Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk sangat terpukul dan menolak menunjuk Maha Pahit lain. Alasan Hayam Wuruk melakukan itu karena dia berutang budi pada Gajah Mada yang membawa puncak keemasan dan sangat menghormatinya.

    Majapahit mulai mengalami kemunduran pada akhir abad ke-14. Ini disebabkan karena konflik perebutan kekuasaan yang terjadi di Majapahit. Ini juga menyebabkan wilayah-wilayah Majapahit satu-persatu mulai memerdekakan diri.

    Pengaruh islam yang mulai berkembang pesat di Jawa sejak datangnya laksamana Cheng Ho di Jawa juga mulai melemahkan pijakan Majapahit di Jawa. Sejak ekspedisi Cheng Ho, komunitas muslim mulai banyak bermunculan di pantai utara Jawa.

    Munculnya pengaruh islam juga melahirkan kekuatan baru di Nusantara. Mereka adalah kesultanan-kesultanan islam seperti Kesultanan Malaka dan Kesultanan Demak.

    Dengan jatuhnya Daha yang dihancurkan oleh Demak pada tahun 1527, kekuatan kerajaan Islam pada awal abad ke-16 akhirnya mengalahkan sisa kerajaan Majapahit. Demak di bawah pemerintahan Raden (kemudian menjadi Sultan) Patah (Fatah), diakui sebagai penerus kerajaan Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi dan tradisi Demak, legitimasi Raden Patah karena ia adalah putra raja Majapahit Brawijaya V dengan seorang putri China.

    Beberapa pendapat menyatakan bahwa Majapahit telah runtuh sejak tahun 1478, ketika Ranawijaya menjadi raja namun tetap berkedudukan di Keling-Kahuripan (Kadiri). Sementara Kertabhumi yang menduduki Majapahit tidak tercatat mengangkat diri sebagai raja Majapahit. N.J. Krom berpendapat bahwa Wangsa Girindra adalah keluarga baru dari Kadiri yang merebut Majapahit dari Wangsa Rajasa.

F. Peninggalan

1. Situs Trowulan

    Situs Trowulan merupakan situs perkotaan masa klasik di Indonesia. Cakupan wilayahnya meliputi Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto dan Kecamatan Jombang. Dalam situs ini, tidak hanya berupa tempat tinggal melainkan terdapat situs untuk upacara, sawah, pasar, waduk, dan lainnya. 

    Situs Twowulan ini sudah digunakan sebagai pemukiman sejak abad ke X-XV. Penemuan situs ini dilakukan oleh W. Wardenaar pada tahun 1815. Penelitian tersebut dilakukan atas perintah Thomas Stamford R, untuk untuk penulisan buku “The History of Java“. 

2. Gapura Bajang Ratu

    Bangunan gapura ini terletak di Desa Temon, Trowulan, Mojokerto. Dalam kitab Negarakertagama, gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk ke bangunan suci. Menurut perkiraan, bangunan ini adalah gapura terbesar sepanjang masa Kerajaan Majapahit.  

    Gapura ini memiliki struktur vertikal dengan tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap serta dilengkapi dengan sayap juga pagar pada kedua sisinya. Pada bagian gapura ini terdapat relief Sri Tanjung yang dipercaya sebagai penangkal bahaya. 

3. Kitab Negarakertagama

    Karya sastra peninggalan Kerajaan Majapahit yang paling terkenal adalah Kitab Negarakartagama. Kitab ini dikarang oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 M. Kitab Negarakertagama berkisah mengenai sejarah raja-raja Nusantara, baik raja Singasari maupun Majapahit.  

    Selain membahas kisah raja-raja, kitab Negarakertagama juga bercerita tentang keadaan Kerajaan Majapahit dan daerah kekuasaannya. Terdapat juga cerita perjalanan Hayam Wuruk menuju daerah kekuasaannya di pelosok Jawa Timur. Ada juga informasi mengenai candi-candi yang ada, kehidupan keagamaan, serta berbagai upacara sakralnya. 

4. Candi Tikus

    Candi Tikus terletak di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto. Disebut sebagai candi tikus, dikarenakan saat ditemukan menjadi sarang tikus. Bangunan ini memiliki bentuk seperti petirtaan, sehingga banyak disebut sebagai tempat pemandian keluarga kerajaan. Tak sedikit juga yang menganggap candi ini sebagai tempat menampung air untuk keperluan masyarakat di zaman Kerajaan Majapahit. 

5. Gapura Wringin Lawang

    Peninggalan Kerajaan Majapahit berupa gapura ini terletak di Desa Jatipasar, Trowulan, Mojokerto. Bangunan ini dibuat dari batu bata merah, dengan tinggi mencapai 15,5m dan diperkirakan dibangun pada abad ke 14 M. Banyak ahli berpendapat bahwa peninggalan Kerajaan Majapahit ini adalah pintu gerbang ke kediaman Patih Gajah Mada serta bangunan penting pada zaman Kerajaan Majapahit. 

6. Kitab Sutasoma

    Kitab Sutasoma merupakan karya sastra peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit yang dikarang oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma ini berisi tentang kisah perjalanan Sutasoma, anak raja yang memilih keluar dari kerajaan untuk belajar menjadi pendeta Buddha. Dalam kitab ini juga, asal muasal dari semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa”.  

7. Candi Pari

    Bangunan peninggalan kerajaan ini terletak di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Dikatakan bahwa candi ini dibangun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Dibangun dengan batu bata segi empat seperti pura di Bali dan menghadap ke arah barat. Berdasarkan tulisan J. Knebel dalam laporannya, candi ini dibangun untuk mengenang hilangnya adik angkat dan sahabat dari putra Prabu Brawijaya.



    



    

Komentar